Posyandu masih temukan balita kurang gizi

Posyandu masih temukan balita kurang gizi

http://dinkes.kuburayakab.go.id/po-includes/js/filemanager/dialog.php?type=1&field_id=picture

 

PENJELASAN: Petugas kesehatan Desa Batu Ampar memberikan penjelasan tentang pantauan tumbuhkembang anak saat memberikan layanan kesehatan di Posyandu Bougenvile Dusun Sungai Limau. Ashri Isnaini/pontianak post

Menggerus Mitos Menyeramkan Imunisasi

Kesadaran sebagai ibu rumah tangga di Desa Ampar untuk mengunjungi Posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya hingga saat ini dinilai masih minim, padahal beberapa tahun terakhir pemerintah tengah gencar mengkampanyekan gerakan masyarakat hidup sehat.

Ashri Isnaini, BATU AMPAR

MENTARI baru saja beranjak naik. Sekitar pukul 10.00 WIB pada Sabtu (10/2), Posyandu Bougenvile Dusun Sungai Limau Desa Batu Ampar didatangi puluhan ibu rumah tangga untuk memeriksakan pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Selain menimbang berat badan balita, dikesempatan yang sama para petugas kesehatan juga memberikan vitamin sekaligus obat cacing bagi anak-anak di dusun setempat. 

“Kegiatan Posyandu di sini memang hanya sebulan sekali, kalaupun ada kegiatan namun masih cukup banyak ibu-ibu di sekitar sini yang tidak datang,” kata kader Posyandu Sungai Limau, Ida Hemilda   

Banyak alasan yang membuat masyarakat setempat enggan mendatangi Posyandu, misalnya khawatir sang anak sakit, atau demam setelah diberi imunisasi atau vaksin saat disuntik. Selain itu ada juga sebagian yang warga yang memang anti dan tidak mau memberikan imunisasi bagi sang anak dengan alasan hal tersebut bukan sebuah kewajiban. 

“Padahal sudah diarahkan, usai disuntik vaksin, kalau sang anak masih sakit tangannya bisa dikompres degan air hangat, tapi tetap saja ada orang tua yang mengaku tidak tega melihat anaknya sakit saat disuntik apalagi kadang ada efek demam usai di imunisasi,” terangnya.

Setelah melakuan pemeriksaan, penimbangan berat badan dan memberikan imunisasi bagi puluhan anak di dusun ini, petugas kesehatan setempat menemukan beberapa balita yang masuk kategori gizi kurang, dengan indikasi berat dan tinggi badannya dinilai tidak ada perubahan dari bulan-bulan sebelumnya atau tidak sesuai dengan penambahan umurnya. 

Misalnya saja Ayu Lestari yang kini sudah berumur 3,6 tahun namun berat badannya sekitar 9 kilogram. Sang ibu, Nursiah pun mengaku kaget mengetahui anaknya termasuk kategori gizi kurang. “Kalau soal makan, anak saya ini makannya tidak pilih-pilih dan suka makan sayur juga walaupun tidak banyak, kalau soal berat dan tinggi badan mungkin juga karena faktor keturunan, karena saya dan ibu saya badannya juga kecil,” jelasnya. 

Nursiah pun mengaku cukup rutin membawa sang anak ke Posyandu, hanya saja kata dia memang ada beberapa vaksin yang belum diberikan pada sang anak. “Tapi kalau saya sempat dan periksa ke Puskesmas anak saya ini, tidak ada sakit apa pun dan pola makannya juga baik,” jelasnya. 

Tak jauh dari kediaman Ayu, juga terdapat seorang balita bernama Alifia berumur 4,4 tahun. Anak dari pasangan Taksiah dan Mawardi ini berat badan hanya 8,3 kilogram. “Badan anak saya ini memang kecil, namun setelah saya periksa memang tidak ada sakit apa-apa, dalam kesehariannya juga lincah saat bermain, hanya saja memang kalau saat makan harus dipaksa dan kurang suka makan sayur-sayuran dan buah-buahan,” kata Taksiah. 

Melihat kondisi sang anak dalam keadaan sehat Taksiah pun mengaku jika hanya ada waktu luang saja menyempatkan diri mengunjungi Posyandu, lantaran dirinya harus membantu sang suami bekerja di dapur arang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 

“Kalau sempat pergilah ke Posyandu, pun Posyandu di sini kurang banyak kegiatannya, kalaupun ada hanya satu bulan sekali,” terangnya.  

Tak hanya Posyandu Bougenvile di Dusun Sungai Limau, di Posyandu Mekar Sari Dusun Cabang Ruan Desa Batu Ampar juga mengalami hal serupa. Saat kali pertama bertugas di Desa Batu Ampar, Fasilitator PPSW Borneo Kecamatan Batu Ampar, Ali Tri Apriana menceritakan dari semua Posyandu yang dikunjunginya di Desa Batu Ampar, Posyandu Mekar Sari dinilai  kurang aktif dan minim pengunjungnya. 

Tri  mengaku wajar, bila Posyandu Mekar Sari minim pengunjung, pasalnya posyandu yang letaknya cukup jauh dari pusat Desa Batu Ampar ini jarang didatangi petugas kesehatan dari Puskesmas setempat.  Butuh perjuangan mengunjungi dusun ini, dari Desa Batu Ampar kita harus menyusuri sungai dengan menggunakan motor tempel sekitar 1,5 jam. “Letak dusun ini memang agak jauh dari pusat desa,” kata Ali.

 Tri  yang kali pertama mengunjungi dusun tersebut mengaku kaget, lantaran melihat cukup banyak ibu rumah tangga yang memiliki balita tidak peduli untuk mengunjungi Posyandu. 

Menurut Tri,  wajar saja masih banyak kaum ibu di dusun tersebut yang enggan mengunjungi Posyandu dan memberikan imunisasi lengkap bagi anak-anaknya, pasalnya hingga saat ini sangat jarang sosialisasi dan beragam kegiatan berkaitan dengan edukasi kesehatan dan sejenisnya digelar di dusun tersebut. 

“Informasi mengenai program kesehatan dan sejenisnya memang jarang disosialiasasikan di dusun ini, kalaupun ada, para kader Posyandulah yang harus pro aktif mendatangi  pusat desa, karena memang untuk petugas kesehatan sangat jarang turun ke Posyandu Mekar Sari ini,” jelasnya.

Selain jarang dikunjungi tenaga kesehatan setempat, dia mengaku masih banyaknya ibu rumah tangga yang turut bekerja membantu suami juga menjadi alasan masih banyak ibu rumah tangga di dusun ini yang enggan mendatangi Posyandu. “Ada juga yang takut kalau habis di imuniasi anaknya demam, selain itu ada juga sebagian warga yang mengaku lebih berpegang teguh pada tradisi dan menilai membawa anak ke Posyandu bukan hal wajib, sehingga kalau dikalkulasikan memang masih banyak balita atau anak-anak di dusun Cabang Ruan yang belum mendapatkan vaksin lengkap,” ujarnya.

Melihat tingkat kesadaran sebagian masyarakat yang masih rendah untuk mendapatkan layanan kesehatan dasa tersebut membuat Kader Posyandu Bougenvile Ida Hemilda dan sejumlah kader posyandu di Desa Batu Ampar mengaku terpaksa bersama rekan-rekannya untuk turun langsung ke Puskesmas memberikan vitamin sekaligus sosialisasi bagi masyarakat agar bisa lebih pro aktif  mendatangi Posyandu. “Kapasitas kami sebagai kader Posyandu mungkin masih terbatas dalam memberikan sosialisasi dan edukasi, sehingga apa yang kami sampaikan tidak semuaya bisa diterima denga baik oleh masyarakat,” jelasnya.

Karenanya dia berharap ada sosialiasi yang lebih gencar lagi dilakukan tenaga kesehatan Puskesmas Batu Ampar untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya mendapat layanan kesehatan dasar di Posyandu. (bersambung)

Dipost Oleh Super Administrator

Post Terkait

Tinggalkan Komentar